Senin, 05 Januari 2015


1. Cross Sectional
   
Adalah suatu penelitian yang menggunakan rancangan atau desain observasi dengan ciri – ciri          sebagai  berikut :
  • Semua pengukuran variabel (dependen dan independen) yang diteliti dilakukan pada waktu yang sama.
  • Tidak ada periode follow – up. Desain cross sectional digunakan jika tujuan penelitian ingin mengukur variabel dependen dan indenpenden serta pola distribusinya.
Kelebihan Desain Cross Sectional :
  • Mudah untuk dilaksanakan.
  •  Hasil segera diperoleh.
  • Dapat menjelaskan hubungan antara fenomena kesehatan yang diteliti dengan faktor – faktor terkait (terutama karakteristik yang menetap).
  • Merupakan studi awal dari suatu rancangan studi kasus – kontrol maupun kohort.
Kelemahan Desain Cross Sectional :
  • Hanya kasus prevalens dan /atau yang tidak terkena dampak tertentu yang diteliti.
  • Tidak bisa menyimpulkan hubungan sebab – akibat karena urutan waktunya tidak dapat ditentukan.
  •  Tidak cocok untuk kasus yang jarang terjadi.
  • Membutuhkan skema sampling yang terencana baik sehingga dapat memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk terpilih.
  • Masalah non – respons.
Cara Merencanakan Penelitian Cross Sectional :
  • Formulasi pertanyaan penelitian.
  • Memilih populasi dan sample.
  • Membuat instrumen penelitian (validitas data).
  • Pengumpulan data (response rate dan quality control).
Formulasi Pertanyaan Penelitian Cross Sectional :
  • Apa masalah kesehatan yang akan diteliti.
  • Faktor – faktor apa saja yang berkaitan dengan masalah kesehatan tersebut.
  • 3Klasifikasi hubungan antara masalah tersebut dan faktor - faktor terkaitnya.
Contoh Penelitian Cross Sectional :
·         Hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan BBLR

2. Case Control

Merupakan rancangan penelitian epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya.

Ciri – Ciri Case Control :
Pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak.

Kelebihan Case Control :
  • Sifatnya relatif murah dan mudah
  • Cocok untuk penyakit dengan periode laten yang panjang
  • Tepat untuk meneliti penyakit langka
  • Dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap penyakit

Kelemahan Case Control :
  • Alur metodologi inferensi kausal yang bertentangan dengan logika normal.
  • Rawan terhadap bias.
  • Tidak cocok untuk paparan langka.
  • Tidak dapat menghitung laju insidensi.
  • Validasi informasi yang diperoleh sulit dilakukan.
  • Kelompok kasus dan kontrol dipilih dari dua populasi yang terpisah.
Kriteria Pemilihan Kasus Case Control :
  • Kriteria Diagnosis dan kriteria inklusi harus dibuat dengan jelas.
  • Populasi sumber kasus dapat berasal dari rumah sakit atau populasi/masyarakat
Kriteria Pemilihan Kontrol Case Control :
  • Mempunyai potensi terpajan oleh faktor risiko yang sama dengan kelompok kasus
  • Tidak menderita penyakit yang diteliti
  • Bersedia ikut dalam penelitian

Contoh Penelitian dengan Case Control :
1.    Hubungan antara rokok dan kanker paru-paru.
2.    Hubungan antara infark miokard dengan rokok.
 
3. Cohort

Merupakan rancangan penelitian epidemiologi analitik observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit.

Ciri – Ciri Cohort :
·         Pemilihan subyek berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek mengalami outcome yang diamati atau tidak. Bisa bersifat retrospektif atau prospektif.
Karakteristik Cohort :
  • Bersifat observasional.
  • Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat.
  • Disebut sebagai studi insidens.
  • Terdapat kelompok kontrol.
  • Terdapat hipotesis spesifik.
  • Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif.
  • Untuk kohor retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder.
Keunggulan Penelitian Cohort :
  1. Dapat mengatur komparabilitas antara dua kelompok (kelompok subjek dan kelompok kontrol) sejak awal penelitian.
  2. Dapat secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari suatu waktu ke waktu yang lain.
  3. Ada keseragaman observasi, baik terhadap faktor resiko maupun efek dari waktu ke waktu.
  4. Bebas bias seleksi dan recall bias.
  5. Outcome tidak mempengaruhi seleksi.
  6. Dapat dipelajari sejumlah efek secara serentak.
Kekurangan Penelitian Cohort :
  1. Memerlukan waktu yang cukup lama.
  2. Memerlukan sarana dan pengelolaan yang rumit.
  3. Kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out dan akan mengganggu analisis hasil.
  4. Ada faktor resiko yang ada pada subjek akan diamati sampai terjadinya efek (mungkin penyakit) maka hal ini berarti kurang atau tidak etis.
  5. Relatif mahal.
  6. Extraneous variabel kadang sukar dikontrol.
  7. Ukuran sampel sangat besar untuk penyakit yang jarang.
Contoh Penelitian Cohort :
Penelitian yang membuktikan adanya hubungan antara Ca paru (efek) dengan merokok (resiko), menggunakan pendekatan atau rancangan prospektif.

1. Tahap pertama :
  Mengidentifikasi faktor efek (variabel dependen) dan resiko (variabel independen) serta variabel - variabel pengendali (variabel kontrol).
·         Variabel dependen : Ca. Paru
·         Variabel independen : merokok
·         Variabel pengendali : umur, pekerjaan dan sebagainya.

2. Tahap kedua :
   Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sampel penelitian. Misalnya yang menjadi populasi adalah semua pria di suatu wilayah atau tempat tertentu, dengan umur antara 40 sampai dengan 50 tahun, baik yang merokok maupun yang tidak merokok.

3. Tahap ketiga :
    Mengidentifikasi subjek yang merokok (resiko positif) dari populasi tersebut, dan mengidentifikasi subjek yang tidak merokok (resiko negatif) sejumlah yang kurang lebih sama dengan kelompok merokok.

4. Tahap keempat :
    Mengobservasi perkembangan efek pada kelompok orang-orang yang merokok (resiko positif) dan kelompok orang yang tidak merokok (kontrol) sampai waktu tertentu, misal selama 10 tahun ke depan, untuk mengetahui adanya perkembangan atau kejadian Ca paru.

5. Tahap kelima :
    Mengolah dan menganalisis data. Analisis dilakukan dengan membandingkan proporsi orang-orang yang menderita Ca paru dengan proporsi orang-orang yang tidak menderita Ca paru, diantaranya kelompok perokok dan kelompok tidak merokok.


Minggu, 16 November 2014

Klasifikasi fraktur femur

a. Fraktur collum femur:
Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam :
  • Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)
  • Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)
b. Fraktur subtrochanter femur
Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :
tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor
tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor
tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor

c. Fraktur batang femur (dewasa)
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi :
- tertutup
- terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;
  • Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.
  • Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.
  • Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)
d.Fraktur batang femur (anak – anak)

e.Fraktur supracondyler femur
Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi.

f. Fraktur intercondylair
Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur.

g. Fraktur condyler femur
Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.