a. Fraktur collum femur:
Fraktur collum femur dapat
disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi
miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras
(jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan
exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam :
- Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)
- Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)
b. Fraktur subtrochanter femur
Fraktur supracondyler fragment
bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya
disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius, biasanya
fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan
tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai
gaya rotasi. fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter
minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah
dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :
tipe 1 : garis fraktur satu level
dengan trochanter minor
tipe 2 : garis patah berada 1 -2
inch di bawah dari batas atas trochanter minor
tipe 3 : garis patah berada 2 -3
inch di distal dari batas atas trochanterminor
c. Fraktur batang femur (dewasa)
Fraktur batang femur biasanya
terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota kota besar
atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan
yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu
klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang
berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi :
- tertutup
- terbuka, ketentuan fraktur femur
terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi
dalam tiga derajat, yaitu ;
- Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.
- Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.
- Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)
d.Fraktur batang femur (anak – anak)
e.Fraktur supracondyler femur
Fraktur supracondyler fragment
bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya
disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius, biasanya
fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan
tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai
gaya rotasi.
f. Fraktur intercondylair
Biasanya fraktur intercondular
diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya terjadi bentuk T fraktur
atau Y fraktur.
g. Fraktur condyler femur
Mekanisme traumanya biasa kombinasi
dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.
